NUZUL QURAN :
Mengapa Al-Quran Berbahasa Arab?
Photo Surah Al-'Alaq ... dalam Al-Quran ...
Inilah ayat pertama yang diturunkan kemudian berperingkat-peringkat sehinggalah terkumpulnya 6,666 ayat dalam Al Quran.
Kira-kira
1398 tahun yang lepas, turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad
S.A.W. pada tanggal 6 Ogos, 610. Ianya bersamaan dengan 17 Ramadhan,
tahun ke-41 keputeraaan Baginda Nabi Muhammad SAW. Al Quran diturunkan
pada malam jumaat di Gua Hira..
Dalam sejarah kehidupan Nabi SAW
ayat al-Quran yang mula-mula diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW
melalui perantaraan malaikat Jibrail ialah lima ayat pertama daripada
surah Al-‘Alaq. maksudnya:
”Bacalah
(wahai Muhammad) dengan nama Tuhan mu yang menciptakan (sekalian
makhluk), Ia menciptakan manusia dari sebuku darah beku; Bacalah, dan
Tuhan mu Yang Maha Pemurah, -Yang mengajar manusia melalui pena dan
tulisan, -Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘alaq:1-5)Penurunan
al-Quran ... didahului dengan suatu kalimah ‘iqra’’ bermaksud ‘baca’ .
Di mana membaca adalah kunci kepada penerokaan ilmu.... dan Al-Quran
merupakan satu panduan lengkap pada umat Islam sejagat..... dunia dan
akhirat.
Namun umat Islam masih tercari cari haluan sendiri,
walau jelas Al Quran itu adalah sebaik panduan untuk dunia dan akhirat
oleh Nabi Muhammad saw kepada umatnya.
Al Quran tetap utuh sehingga kini, salah satu sebabnya adalah kerana ianya di turunkan dalam bahasa Arab.
“
Setiap saat, lahir orang-orang alim yang mampu menghapal isi kandungan
Kitab Suci Al-Quran. Hatta, orang buta atau anak kecil. Itulah bedanya
dengan Kitab Suci lain [Lanjutan Universalitas Al-Qur’an bagian 2-
habis]“ Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi *)
“Mengapa Al-Quran diturunkan kepada seorang Nabi yang miskin dan buta huruf (ummiy)?
Mengapa tidak diberikan kepada pembesar Mekkah maupun Tha’if saja?”
Pertanyaan seperti ini sering terjadi.
Sama hal nya dengan pernyataan, “Mengapa Al-Qur’an berbahasa Arab?”
Banyak
dalil yang mengungkap hal ini. Diantaranya; QS. 12: 2, 14: 4, 13: 37,
16: 103, 19: 97, 20: 113, 26: 193-195, 26: 198-199, 39: 28, 41: 3, 41:
44, 43: 3, 44: 58, dan 46 : 12.
Boleh dikata, hampir semua ayat
tersebut menyatakan, bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dalam “bahasa Arab”.
Adalah keliru jika karena Allah menurunkan Al-Quran ke dalam bahasa
Arab kemudian dikatakan “tidak universal”.
Kenapa Allah memilih bahasa Arab? Bukan bahasa lain?
Barangkali
itu adalah hak Allah. Meski demikian, pilihan Allah mengapa Al-Quran
itu dalam bahasa Arab bisa dijelaskan secara ilmiah.
Pertama,
sampai hari ini, bahasa yang berasal dari rumpun Semit yang masih
bertahan sempurna adalah bahasa Arab. Bahkan Bible (Old Testament) yang
diklaim bahasa aslinya bahasa Ibrani (Hebrew) telah musnah, sehingga
tidak ada naskah asli dari Perjanjian Lama.
Meskipun begitu, menurut
Isrâ’il Wilfinson, dalam bukunya Târîk al-Lughât al-Sâmiyyah (History of
Semitic Language), seperti yang dikutip Prof. Al-A‘zamî, ternyata
bahasa asli PL itu tidak disebut Ibrani.
Bahasa pra-pengasingan
(pre-exilic language) yang digunakan oleh Yahudi adalah dialek Kanaan
dan tidak dikenal sebagai Ibrani. Orang-orang Funisia (atau lebih
tepatnya, orang-orang Kanaan) menemukan alfabet yang benar pertama kali ±
1500 S.M, berdasarkan huruf-huruf ketimbang gambar-gambar deskriptif.
Semua
alfabet yang berturut-turut seterusnya adalah utang budi pada, dan
berasal dari, pencapaian Kanaan ini. (Prof. Dr. M.M. Al-A‘zamî, The
History of The Qur’ânic Text from Revelation to Compilation (edisi
Indonesia), terjemah: Sohirin Solihin, dkk., GIP, 2005, hlm. 259).
New
Testament (Gospel, Injil) yang diklaim bahasa aslinya adalah bahasa
“Yunani” juga sudah hilang, sehingga tidak ada naskah asli dari Injil.
Bahkan, ini bertentangan dengan bahasa Yesus, yang sama sekali tidak
paham bahasa Yunani. Bukankah ini ‘mencederai’ saktralitas Injil yang
diklaim sebagai ‘firman Tuhan’?
Kedua, bahasa Arab dikenal
memiliki banyak kelebihan: (1) Sejak zaman dahulu kala hingga sekarang
bahasa Arab itu merupakan bahasa yang hidup, (2) Bahasa Arab adalah
bahasa yang lengkap dan luas untuk menjelaskan tentang ketuhanan dan
keakhiratan, (3) Bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab mempunyai tasrif
(konjungsi), yang amat luas hingga dapat mencapai 3000 bentuk perubahan,
yang demikian itu tak terdapat dalam bahasa lain. (Lihat, Al-Qur’an dan
Terjemahnya, Depag, edisi revisi, Juli 1989, hlm. 375 (foot-note).
Ketiga,
Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW. dalam bahasa Arab
yang nyata (bilisanin ‘Arabiyyin mubinin), agar menjadi: mukjizat yang
kekal dan menjadi hidayah (sumber petunjuk) bagi seluruh manusia di
setiap waktu (zaman) dan tempat (makan); untuk mengeluarkan manusia dari
kegelapan kepada cahaya: dari kegelapan “syirik” kepada cahaya
“tauhid”, dari kegelapan “kebodohan” kepada cahaya “pengetahuan”, dan
dari kegelapan “kesesatan” kepada cahaya “hidayah”.
Tiga poin itu
berjalan terus atas izin Allah sampai dunia ini hancur, yakni Risalah
(Islam), Rasul (Muhammad SAW) dan Kitab (Al-Qur’an)). (Lihat, Prof. Dr.
Thaha Musthafa Abu Karisyah, Dawr al-Azhar wa Jami‘atihi fi Khidmat
al-Lughah al-‘Arabiyyah wa al-Turats al-Islamiy, dalam buku Nadwat
al-Lughah al-‘Arabiyyah, bayna al-Waqi‘ wa al-Ma’mul, 2001, hlm. 42).
Karena
Islam itu satu risalah (misi) yang “universal” dan “kekal”, maka
mukjizatnya harus retoris (bayaniyyah), linguistik (lisaniyyah) yang
kekal. Dan Allah telah berjanji untuk memelihara Al-Qur’an, seperti yang
Ia jelaskan, “Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Dzikra (Al-Qur’an)
dan Kami pula yang memeliharanya.” (Qs. 15: 9).
Keempat, menurut
Syeikhu’l-Islam, Ibnu Taimiyah, “Taurat diturunkan dalam bahasa Ibrani
saja. Dan Musa ‘alayhissalam tidak berbicara kecuali dengan bahasa itu.
Begitu juga halnya dengan al-Masih: tidak berbicara tentang Taurat dan
Injil serta perkara lain kecuali dengan bahasa Ibrani. Begitu juga
dengan seluruh kitab. Ia tidak diturunkan kecuali dengan “satu bahasa”
(bilisanin wahidin): dengan bahasa yang dengannya diturunkan kitab-kitab
tersebut dan bahasa kaumnya yang diseru oleh para rasul.
Seluruh
para Nabi, menyeru manusia lewat bahasa kaumnya yang mereka ketahui.
Setelah itu, kitab-kitab dan perkataan para Nabi itu disampaikan: apakah
diterjemahkan untuk mereka yang tidak tahu bahasa kitab tersebut, atau
orang-orang belajar bahasa kitab tersebut sehingga mereka mengerti
makna-maknanya. Atau, seorang utusan menjelaskan makna-makna apa yang
dengannya ia diutus oleh Rasul dengan bahasanya…” (Lihat, Ibnu Taimiyah,
al-Jawb al-Shahih liman Baddala Dina’l-Masih (Jawaban Yang Benar, Bagi
Perubah Agama Kristus), (Cairo: Dar Ibnu al-Haytsam, 2003, jilid 1 (2
jilid), hlm. 188-189).
Sebagaimana Taurat dan Injil, Al-Quran
diturunkan dalam satu bahasa, bahasa kaumnya. Bedanya, kenabian yang ada
sebelum Islam, hanya diperuntukkan pada kaum tertentu atau zaman
tertentu (lokalitas) saja. Nuh misalnya, hanya diutus kepada kaumnya
(QS. 7: 59); Hud kepada kaumnya (QS. 7: 65); Shaleh kepada kaumnya (QS.
7: 73); Luth kepada kaumnya (QS. 7: 80); Syu‘aib kepada kaumnya (QS. 7:
85); dan Musa kepada Fir‘aun dan para punggawanya (QS. 7: 103).
Dakwah
Nabi SAW di “Ummu’l-Qura”, sebagaimana arti yang sudah dijelaskan
panjang lebar, bukan hanya dalam pengertian Mekkah semata. Juga bukan
hanya untuk orang Quraisy, tidak pula untuk Jazirah Arabia saja, tapi
untuk seluruh alam. (Baca QS. 25: 1, 34: 28, 7: 158, dan 9: 33).
Jika kalangan Nasrani menganggap Al-Quran tidak universal, maka, seharusnya yang lebih tidak universal justru Bible.
Meski
bahasa Arab adalah bahasa yang rumit, namun bukanlah hal susah bagi
umat Islam menghapalkannya. Ini berbeda dengan kitab suci lain,
sebagaimana Bible misalnya.
Keuniversalan Al-Quran lainnya,
dibuktikan dengan bagaimana Allah menjaganya melalui orang-orang alim
dan yang memiliki kelebihan dalam menghapalkannya (tahfiz). Meski
terdiri dari ribuan ayat, dalam sejarah, selalu saja banyak orang mampu
menghapalkannya secara cermat dan tepat. Hatta, ia orang buta atau anak
kecil sekalipun. Al-Quran, mudah dihapal atau dilantunkan dengan gaya
apapun. Diakui atau tidak, ini berbeda dengan Bible atau Injil.
Karena
itu, setiap usaha apapun untuk menambah atau mengurangi Al-Quran baik
yang dilakukan kalangan orientalis atau orang kafir dalam sepanjang
sejarah selalu saja ketahuan.
Jangan heran bila banyak umat Islam
tiba-tiba ribut gara-gara ada Al-Quran palsu atau sengaja dipalsukan
sebagaimana terjadi dalam kasus “The True Furqon.” Barangkali itulah
cara Allah menjaganya.
Dan hebatnya, para penghapal Al-Quran,
setiap saat selalu saja lahir dan bisa ditemukan di seluruh dunia. Untuk
yang seperti ini, di Indonesia, bahkan sudah mulai banyak dijadikan
sebagai pesantren-pesantran formal.
Sebaliknya, bagi kita, belum
pernah terdengar ada orang Kristen atau Yahudi yang hapal keseluruhan
kitab suci mereka. Bahkan termasuk pendeta atau pastur sekalipun.
Mengapa bisa demikian? Saya kira Anda lebih tahu jawabannya.
Wallahu a‘lamu bi al-shawab. []
sumber: http://fakta-illuminati.blogspot.com/